Sabtu, 02 Maret 2013

Model Pembelajaran Seni Budaya oleh RAGEN GUNAWAN, M.Pd.



video
Video TGT Berkarya Patung Bebegig

INOVASI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA/SENI RUPA
DI SMP NEGERI 2 CIMALAKA SUMEDANG
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TEAM GAMES TOURNAMENT ( TGT )



Pedahuluan

A. Latar Belakang
            Tugas dan tanggung jawab seorang guru harus memiliki kemampuan dalam mengatur suasana kelas, agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.  karena suasana kelas merupakan utama psikologis yang mempengaruhi hasil belajar, guru dalam mengelola suasana kelas sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa untuk belajar.
Seni Budaya dalam hal ini Seni Rupa merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam berbagai pengalaman apresiasi maupun pengalaman berkreasi untuk menghasilkan suatu produk karya seni murni dan terapan berupa benda nyata yang bermanfaat langsung bagi kehidupan siswa. Dalam mata pelajaran Seni budaya/ Seni Rupa, siswa melakukan interaksi terhadap karya seni atau benda-benda produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungan siswa,dan kemudian berkreasi menciptakan berbagai karya seni dan produk kerajinan maupun produk teknologi, secara sistematis, sehingga diperoleh pengalaman konseptual, pengalaman apresiatif dan pengalaman kreatif.
Orientasi mata pelajaran Seni budaya/Seni Rupa di SMP adalah memfasilitasi pengalaman emosi,intelektual, fisik, konsepsi, sosial, estetis, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apreasiasi dan kreasi terhadap berbagai produk benda di sekitar siswa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, mencakup antara lain ; jenis, bentuk, fungsi, manfaat, tema, struktur, sifat, komposisi, bahan baku, bahan pembantu, peralatan, teknik kelebihan dan keterbatasannya. Selain itu siswa juga melakukan aktivitas memproduksi berbagai produk benda kerajinan maupun produk teknologi misalnya dengan cara meniru, mengembangkan dari benda yang sudah ada atau membuat benda yang baru.
Inovasi pembelajaran Seni Budaya / Seni Rupa di SMP perlu diterapkankan oleh guru,  yang salah satunya melalui  model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).Model pembelajaran ini dapat memberikan efek terhadap sikap penerimaan perbedaan antar-individu, baik ras, keragaman budaya, gender, sosial-ekonomi, dan lain-lain.Selain itu yang terpenting, pembelajaran kooperatif mengajarkan keterampilan bekerja sama dalam kelompok atau teamwork. Keterampilan ini sangat dibutuhkan anak saat nanti lepas ke tengah masyarakat.


B. Identifikasi
            Berdasarkan paparan latar belakang di atas diperoleh identifikasi masalah antara lain sebagai berikut :
1
.Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran  Seni Budaya/Seni 
   Rupa di SMP.
2.Rendahnya minat dan kreatifitas siswa dalam mata pelajaran Seni 
   Budaya/Seni Rupa di SMP.
3.Perlunya inovasi dan penerapan model pembelajaran untuk memotivasi minat 
   dan kreatifitas serta bakat siswa dalam pembelajaran Seni Budaya/Seni Rupa di
   SMP.

Tinjauan Teoritis

A. Model Pembelajaran
“Model pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelola kegiatan  pembelajaran, dengan mengintegrasikan komponen urutan kegiatan, cara  mengorganisasikan materi pelajaran dan pembelajaran, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk mencapai tujuan     pembelajaran yang telah ditentukan secara efektif dan efisien. (Atwi Suparman, 97:157).
Peran seorang guru adalah pemimpin dan fasilitator belajar, mengajar bukan hanya menyampaikan bahan pelajaran, tetapi suatu proses dalam upaya membelajarkan siswa (Nana Sudjana, 1987).
Komponen-komponen yang harus ada dalam proses pembelajaran menurut Nana Sudjana ( 1987) adalah tujuan, materi atau bahan ajar, metode dan alat, serta penilaian. Komponen-komponen tersebut tidak berdiri  sendiri, melainkan saling berhubungan dan mempengaruhi. Oleh karena itu, harus diupayakan hubungan yang sinergi antara ke empat komponen tersebut. Tugas ini dibebankan kepada guru, yang merupakan pengendali dalam proses pembelajaran tersebut.
Sasaran utama dalam proses pembelajaran adalah terjadinya proses belajar pada diri pembelajar, empat komponen seperti dijelaskan di atas, diatur dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hal ini akan berkaitan dengan metode pembelajaran dan media yang harus digunakan, untuk menimbulkan proses belajar pada siswa dapat terwujud.
“Model pembelajaran yang akan dilaksanakan agar efektif, dapat dilihat dari karakteristik seperti: prilaku pengajar, karakteristik pengajar, perilaku peserta didik, dan karakteristik kelas (Woolfolk, 1982)  yang dituntut dari seorang pengajar dalam melaksanakan proses pembelajaran adalah kemampuan dalam memotivasi siswa, menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang sesuai dengan tujuan, mempersiapkan dan menggunakan media pembelajaran, dan menilai hasil belajar.

B. Pengertian Seni Rupa
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.

Pendidikan Seni Rupa
Sebagai materi pembelajaran, mata pelajaran Seni perlu dipahami guru, mau dibawa kemana anak didik sehingga tercapai arah yang tepat.
Eisner (1972) dan Chapman (1978) mengatakan bahwa, arah atau pendekatan seni baik itu seni rupa, seni seni, seni tari ataupun seni teater, secara umum dapat dipilah menjadi dua pendekatan, yakni seni dalam pendidikan dan pendidikan melalui seni.
Pertama seni dalam pendidikan,  secara hakiki materi seni penting diberikan kepada anak. Maksudnya adalah, keahlian melukis, menggambar, menyanyi, menari, memainkan seni dan keterampilan lainnya perlu ditanamkan kepada anak dalam rangka pengembangan kesenian dan pelestarian kesenian. Seni dalam pendidikan ini sejalan dengan konsep pendidikan yaitu sebagai proses pembudayaan yang dilakukan dengan upaya mewariskan atau menanamkan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi berikutnya (baca: guru kepada murid). Oleh sebab itu, seni dalam pendidikan merupakan upaya pendidik seni dan juga lembaga yang menaungi untuk mewariskan, melestarikan, dan mengembangkan berbagai jenis kesenian yang ada baik lokal maupun mancanegara.
Kedua, pendidikan melalui seni. Plato menyatakan bahwa seni seharusnya menjadi dasar pendidikan. Dari pendapat ini bisa dipahami bahwa sesungguhnya seni atau pendidikan seni mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan secara umum.
Konsep pendidikan melalui seni juga dikemukan oleh Dewey bahwa seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. Maka melalui pendidikan melalui seni tercapai tujuan pendidikan yaitu keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis.
Merujuk pada konsep pendidikan melalui seni, maka pelaksanaannya lebih ditekankan pada proses pembelajaran dari pada produk. Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka sasaran belajar pendidikan seni tidak mengharapkan siswa pandai menyanyi, pandai memainkan alat seni, pandai menggambar dan terampil menari. Melainkan sebagai sarana ekspresi, imajinasi dan berkreativitas untuk menumbuhkan keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis. Kalau memang ternyata melalui pendidikan seni dapat menghasilkan seorang seniman maka itu merupakan dampak saja.
Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka guru pun dapat melaksanakannya. Kekurangan kemampuan guru dalam hal pendidikan seni dapat ditutup dengan penggunaan berbagai media pembelajaran yang memadai. Seperti yang telah dipaparkan di atas, pendidikan seni khususnya banyak sekali memberikan kontribusi bagi perkembangan dan keseimbangan rasional, emosional, intelektual dan kesadaran estetis.



C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada
lima komponen utama dalam dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah,
penayangan gambar, pemutaran video, diskusi,  yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari
5 sampai 6 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor
dan bergambar. Siswa memilih kartu bernomor dan bergambar, kemudian mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan dengan praktik berkarya pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok turnamen yang terdiri dari anggota  yang heterogen, baik prestasi akademiknya, kreatifitasnya, dan  jenis kelamin. Kedua memberi petunjuk proses berkarya dalam waktu yang telah ditentukan. Ketiga mengintruksikan penyiapan bahan untuk berkarya. Keempat mempersilakan memulai turnamen proses berkarya hingga batas waktu yang telah ditetapkan.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat
bonus atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika mampu menyelesaikan karya dengan cepat dan tepat.  “Great Team” apabila menyelesaikan karya dengan cepat tapi kurang tepat,  dan “Good Team” apabila menyelesaikan karya agak lambat tapi tepat.
Pembahasan
Tugas dan tanggung jawab seorang guru mata pelajaran Seni Budaya/ Seni Rupa harus memiliki kemampuan dalam mengatur suasana kelas, agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.  karena suasana kelas merupakan utama psikologis yang mempengaruhi hasil belajar, guru dalam mengelola suasana kelas sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa untuk belajar.
Kelemahan dan kekurangan yang terdapat pada kemampuan guru pengajar, kreatifitas, motivasi dan minat peserta didik, serta model inovasi pembelajaran yang diterapkan harus segera diantipasi untuk mewujudkan tujuan belajar.

A. Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran  Seni 
     Budaya/Seni  Rupa di SMP.

Pada umumnya kurangnnya kemampuan guru pengajar Seni Budaya/Seni Rupa di SMP disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1. Latar belakang pendidikannya bukan dari bidang kesenian ( Seni Rupa ).
    Mereka sebagai guru mata pelajaran lain yang hanya ditugaskan untuk mengisi
    kekosongan atau kekurangan guru mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa,
    mengingat lulusan pendidikan seni rupa belum memadai jumlahnya dan
    tidak di setiap sekolah terdapat guru mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa.
2. Tidak kreatif berkesenian.
Artinya guru cenderung terpaku pada sumber materi seni yang ada pada buku teks saja, tidak ada kreatifitas pengembangan bahan ajar seni yang dapat digali dan disesuaikan dari potensi suasana lingkungan belajar.
3. Keterikatan guru pada satu jenis model pembelajaran.
Belum terbiasanya guru menggunakan model-model pembelajaran yang lain, serta media dan teknologi dalam pembelajaran.    Guru cenderung hanya terbiasa menggunakan satu model pembelajaran saja dan tidak menggunakan media apalagi teknologi pembelajaran, konvensional, dan membosankan.      

B.Rendahnya minat dan kreatifitas siswa dalam mata pelajaran Seni 
    Budaya/Seni Rupa di SMP.
  
        Di samping kurangnya kemampuan guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas, juga banyak dijumpai kesulitan dalam menyampaikan materi terhadap siswa karena tidak semua siswa menyukai mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa, minat dan kreatifitasnya rendah, dengan berbagai alasan, antara lain :
1. Siswa memandang bahwa mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa bukan
    mata pelajaran yang di-ujinasional-kan dan menganggap sebagai mata 
    pelajaran pelengkap belaka.
2. Metode pembelajaran yang digunakan kurang relevan dengan tujuan dan 
    materi pembelajaran, sehingga model pembelajarannya pun tidak menarik bagi 
    siswa dalam proses belajar.
3. Mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa dianggap sebagai mata pelajaran yang 
    “sulit“ karena harus memiliki kepekaan rasa, dan memiliki daya cipta, serta 
    kemampuan berapresiasi, dan kreasi.
4. Rata-rata siswa dalam suatu kelas kurang bahkan sama sekali tidak memiliki 
    bakat seni (kesenirupaan).

C. Perlunya inovasi dan penerapan model-model pembelajaran untuk 
     memotivasi minat dan kreatifitas serta bakat siswa dalam pembelajaran 
     Seni Budaya/Seni Rupa di SMP.

Inovasi diartikan sebagai idea atau gagasan baru. Pembelajaran inovatif adalah implementasi idea atan gagasan baru dalam tataran mikro di kelas, sehingga tercipta kondisi yang memungkinkan siswa belajar secara optimal. Pada pembelajaran yang inovatif guru akan berperan sebagai sumber belajar, tutor, evaluator, pembimbing dan pemberi dukungan dalam belajar siswa.
Salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat menyenangkan dan menggairahkan suasana belajar adalah Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament.
Model pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament memiliki dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, tetapi sewaktu siswa sedang bermain dalam game temannya tidak boleh membantu, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual.
Bentuk turnamen dalam pembelajaran Seni Budaya/Seni Rupa di antaranya dengan tugas berkarya seni secara berkelompok. Umpamanya dalam kompetensi mengapresiasi dan berkreasi karya SENI RUPA MURNI, pokok bahasan SENI PATUNG, seperti yang diimplementasikan di kelas IX SMP NEGERI 2 CIMALAKA SUMEDANG.
Semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) dan keterampilan (kreatifitas) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya dengan berkreasi secara aktif bersama-sama menyelesaikan tugas karya seninya.  Prinsipnya, pekerjaan sulit untuk anak yang memiliki keterampilan, dan pekerjaan yang lebih mudah untuk anak yang kurang terampil. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai reviu materi pembelajaran.

Kesimpulan dan Saran

A.Kesimpulan
    Dari pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1.    Pada umumnya kurangnnya kemampuan guru pengajar Seni Budaya/Seni Rupa di SMP disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
a. Latar belakang pendidikannya bukan dari bidang kesenian ( Seni Rupa ).
b. Tidak kreatif berkesenian.
         c. Keterikatan guru pada satu jenis model pembelajaran.
     2.  Penyebab rendahnya minat dan kreatifitas siswa dalam mata pelajaran    
          Seni Budaya/Seni Rupa di SMP, antara lain :
          a. Siswa memandang bahwa mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa bukan
             mata pelajaran yang di-ujinasional-kan dan menganggap sebagai mata 
             pelajaran pelengkap belaka.
         b. Metode pembelajaran yang digunakan kurang relevan dengan tujuan dan 
             materi pembelajaran, sehingga model pembelajarannya pun tidak    
             menarik bagi siswa dalam proses belajar.
         c. Mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa dianggap sebagai mata pelajaran  
            yang “sulit“ karena harus memiliki kepekaan rasa, dan memiliki daya  
            cipta, serta kemampuan berapresiasi, dan kreasi.
        d. Rata-rata siswa dalam suatu kelas kurang bahkan sama sekali tidak 
            memiliki bakat seni (kesenirupaan).

3.      Inovasi dan penerapan model-model pembelajaran untuk 
     memotivasi minat dan kreatifitas serta bakat siswa dalam  
     pembelajaran Seni Budaya/Seni Rupa di SMP, di antanya dengan :
         
 Model pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament, karena
 model pembelajaran ini dapat memberikan efek terhadap sikap penerimaan   
 perbedaan antar-individu, baik ras, keragaman budaya, gender, sosial-
 ekonomi, dan lain-lain.Selain itu yang terpenting, pembelajaran kooperatif
 mengajarkan keterampilan bekerja sama dalam kelompok atau teamwork.
 Keterampilan ini sangat dibutuhkan anak saat nanti lepas ke tengah  
 masyarakat.

B. Saran
    1.   Kemampuan guru Seni Budaya/Seni Rupa SMP hendaknya lebih 
           ditingkatkan melalui diklat, workshop atau sejenisnya.
2.      Minat dan kreatifitas siswa SMP dalam pembelajaran Seni Budaya/Seni Rupa lebih dimotivasi dengan penerapan inovasi model-model pembelajaran dan penggunaan media serta teknologi pembelajaran.
3.      Terapkan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT salah satunya yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Pustaka
Rohendi R, Tjetjep, 2000, Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan. STSI, Bandung.

Sanjaya, Wina, 2010, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Cetakan ke-7,Jakarta: Kencana.

Sudjana, Nana, 1987, Proses Pembelajaran, Bandung :

Suparman , Atwi, 1997, Model-Mode Pembelajaran, Jakarta :

Sutjipto, Katjik, 1973, Seni Rupa sebagai Alat Pendidikan, Sub Proyek Penulisan Buku Pelajaran. IKIP Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar